Give me some food! :D

Sabtu, 18 Desember 2010

Haunted House AmityVille

Pada Desember 1975, George dan Kathleen serta anak-anak mereka pindah ke sebuah rumah di 112 Ocean Avenue, sebuah rumah besar bergaya kolonial Belanda di Amityville, sebuah lingkungan di pinggiran kota di selatan Long Island, New York.
Tigabelas bulan sebelum keluarga Lutz pindah, Ronald DeFeo, Jr., pemilik sebelumnya, telah menembak mati enam anggota keluarganya di rumah itu. Setelah 28 hari keluarga Lutz tinggal dirumah itu, mereka mulai merasakan hal-hal aneh dengan rumah tersebut.
Bagian ini berdasarkan buku yang ditulis oleh Jay Anson, 1977, The Amityville Horror – A True Story.
Jay Anson (1921-1980), adalah penulis The Amityville Horror
Rumah bernomor 112 di Ocean Avenue telah kosong selama 13 bulan setelah DeFeo membunuh anggota keluarganya, hingga pada Desember 1975 keluarga Lutz membeli rumah tersebut seharga $80.000. Rumah yang memiliki enam kamar tidur ini dibangun dengan gaya kolonial Belanda, dan memiliki atap yang melengkung. Rumah ini dilengkapi dengan kolam renang dan sebuah rumah tempat penyimpanan kapal. George dan Kathy telah menikah pada bulan Juli 1975 dan mempunyai rumah mereka sendiri, namun ingin memulai kembali dengan memiliki rumah baru. Kathy mempunyai tiga anak dari pernikahan sebelumnya, Daniel (9), Christopher (7), dan Melissa alias Missy (5). Mereka juga memiliki seekor anjing Labrador yang diberi nama Harry. Selama pengecekkan mereka saat akan membeli rumah tersebut, oleh agen mereka telah diberitahukan mengenai pembunuhan yang dilakukan oleh DeFeo, namun mereka menganggap hal itu bukanlah masalah.


AmityVille

Keluarga Lutz pindah kerumah tersebut pada 18 Desember 1975. Sebagian besar mebel dari keluarga DeFeo masih ada, karena semuanya termasuk dalam kesepakatan jual beli. Seorang teman George Lutz telah mempelajari tentang masa lalu sejarah rumah tersebut, dan mendesak agar mereka melakukan pemberkatan. Namun mereka tidak mengerti cara-caranya. George mengenal seorang Pendeta Katolik yang bernama Bapa Ray, dan ia bersedia untuk melakukan pemberkatan. (Dalam buku Anson disebutkan nama Pendeta tersebut adalah Bapa Mancuso. Hal ini dilakukan untuk menjaga privasi Pendeta tersebut, nama aslinya adalah Bapa Ralph J. Pecoraro).
Bapa Mancuso adalah seorang pengacara, imam Katolik, dan seorang psikoterapi yang tinggal di Sacred Heart Rectory. Ia tiba untuk melaksanakan berkat pada sore hari tanggal 18 Desember 1975 disaat George dan Kathy sedang membongkar barang-barang mereka. Ketika ia mengibaskan air suci yang pertama dan mulai untuk berdoa, ia mendengar suara dengan jelas yang mengatakan”Keluar!” – “Get out!”. Disaat meninggalkan rumah tersebut, ia tidak menceritakan kejadian itu kepada George maupun Kathy. Pada 24 Desember 1975, Bapa Mancuso menelepon George Lutz dan menasihatkan agar dia tidak menggunakan ruang dimana ia telah mendengar suara yang aneh tersebut. Ruang ini adalah ruangan yang direncanakan Kathy digunakan sebagai ruang jahit, dan tadinya adalah kamar tidur Marc dan Yohanes Matthew DeFeo. Percakapan telepon terputus secara tiba-tiba, dan kunjungan berikutnya ke rumah tersebut mengakibatkan Bapa Mancuso menderita demam tinggi dan pada lengannya dijumpai tanda yang mirip dengan tanda stigmata.
Pada mulanya, George dan Kathy Lutz tidak merasakan hal yang aneh dengan rumah mereka. Namun kemudian, mereka merasa bahwa “masing-masing dari mereka tinggal di suatu rumah yang berbeda”.
Sebagian dari pengalaman keluarga Lutz diuraikan sebagai berikut:
  • George selalu terbangun sekitar pukul 03:15 setiap paginya, dan kemudian keluar ke rumah tempat penyimpanan kapal. Waktu tersebut diperkirakan adalah waktu dimana DeFeo membunuh anggota keluarganya.
  • Rumah mereka selalu diganggu oleh segerombolan lalat di setiap musim dingin.
  • Kathy mendapat mimpi buruk tentang pembunuhan dan saat dimana ia melakukan persetujuan pembelian rumah tersebut. Anak-anak mereka juga mulai tertidur dengan terlungkup, posisi yang sama saat mayat DeFeo ditemukan.
  • Kathy merasakan seolah-olah “sedang dipeluk” dengan penuh kasih oleh suatu kekuatan yang tidak terlihat.
  • Kathy menemukan sebuah ruang kecil yang tersembunyi (sekitar empat kaki) di belakang basement. Dindingnya bercat merah dan ruangan itu tidak tampak didalam denah rumah. Ruangan itu kemudian dikenal dengan nama “The Red Room”. Ruangan ini memiliki pengaruh terhadap anjing mereka Harry, yang selalu menolak untuk mendekat dan selalu berjongkok seolah-olah merasakan sesuatu yang negatif.
  • Ada udara dingin, bau parfum dan kotoran didalam rumah, dimana tidak terdapat saluran udara atau jalur bagi sumber tersebut.
  • Putri mereka yang berumur lima tahun, Missy, mengisahkan teman imajinasinya yang bernama “Jodie” yang memiliki mata yang sangat merah.
  • George selalu dibangunkan oleh bunyi bantingan pintu depan. Ia akan segera ke lantai bawah dan menemukan anjing mereka tertidur dengan suara keras didepan pintu. Tidak ada orang lain yang mendengar suara itu kecuali dia.
  • George mendengar apa yang diuraikan sebagai “Marching band Jerman” atau suara seperti radio yang tidak di setel dengan frekuensi yang tepat. Namun ketika ia ke menuju lantai bawah, suara gaduh akan berhenti.
  • George disadari bahwa ia memiliki kemiripan kuat dengan Ronald DeFeo, Jr., dan mulai bermabukan di The Witches’ Brew, bar dimana DeFeo adalah salah seorang pelanggannya.
  • Ketika mengecek tempat penyimpanan kapal pada suatu malam, George melihat sepasang mata merah yang sedang memperhatikan dia dari jendela kamar tidur Missy. Ketika ia pergi keatas untuk melihatnya, ia tidak menemukan apa-apa. Kemudian disimpulkan bahwa itu adalah “Jodie”.
  • Ketika ditempat tidur, Kathy mendapatkan bekas merah didadanya disebabkan oleh suatu kekuatan tak terlihat, dan ia diangkat sekitar dua kaki dari tempat tidurnya.
  • Kunci, jendela, dan pintu rumah dirusakkan oleh suatu kekuatan yang tak terlihat.
  • Terdapat belahan kuku binatang yang besar di salju yang kemudian dihubungkan dengan seekor babi besar pada 1 Januari 1976.
  • Dari dinding aula dan lubang kunci dari pintu kamar bermain yang ada di loteng keluar lumpur yang berwarna hijau.
  • Sebuah salib 12 inchi yang digantung Kathy di kamar kecil ditemukan terpasang terbalik dan menyemburkan bau.
  • George tersandung oleh sebuah keramik singa Tiongkok yang memiliki tinggi sekitar empat kaki, yang kemudian meninggalkan bekas gigitan pada salah satu mata kakinya.
  • George melihat Kathy berubah menjadi seorang wanita tua yang berumur sekitar 90-an, “dengan rambut acak-acakan, muka dengan kerutan dan berbentuk buruk, dan air liur yang menetes dari mulutnya yang ompong”.
George dan Kathy Lutz dikelilingi dengan berbagai media yang mengulas kasus mereka
Setelah memutuskan bahwa ada yang tidak beres dengan rumah mereka, yang tidak dapat dijelaskan secara rasional, George dan Kathy Lutz melaksanakan suatu pemberkatan dengan cara mereka sendiri pada 8 Januari 1976. George memegang sebuah salib yang terbuat dari perak selagi kedua-duanya membacakan Doa Para Raja, dan dari ruang tamu mereka, menurut dugaan banyak oang terdengar suara paduan suara yang meminta agar mereka berhenti: “Will you stop!”.
Di pertengahan Januari 1976, dan setelah usaha pemberkatan yang dilakukan oleh George dan Kathy, mereka mengalami kejadian yang kemudian menjadi malam terakhir mereka berada di rumah itu. Keluarga Lutz menilai bahwa segala kejadian yang terjadi sebagai sesuatu yang sangat menakutkan, “too frightening”.
Setelah berkonsultasi dengan Bapa Mancuso, mereka memutuskan untuk mengambil beberapa barang kepunyaan mereka dan memutuskan untuk tinggal di rumah ibu Kathy di dekat Deer Park, New York. Pada 14 Januari 1976, George dan Kathy Lutz bersama ketiga anaknya dan anjing mereka Harry, meninggalkan rumah dan meninggalkan banyak barang dibelakang rumah tersebut. Hari berikutnya, seorang tukang ditugaskan untuk memindahkan barang-barang untuk dikirim ke keluarga Lutz. Ia melaporkan ada fenomena yang tidak normal didalam rumah itu.
Buku ini ditulis setelah Tam Mossman, seorang editor di penerbit Prentice Hall yang mengenalkan George dan Kathy Lutz kepada Jay Anson. Mereka tidak bekerja secara langsung dengan Anson, namun disampaikan melalui rekaman tape yang berdurasi sekitar 45 jam, yang kemudian menjadi dasar bagi penulisan buku ini. Diperkirakan penjualan buku ini mencapai sepuluh juta kopi dari beberapa edisi. Anson dikatakan mengambil dasar judul bukunya “The Amityville Horror” dari “The Dunwich Horror” karangan H.P. Lovecraft yang diterbitkan pada tahun 1929.


So, i very like to browsing about knowledge that i don't know yet. This is called The Mystery of The World. 



Ballroom Dance


Ballroom Dance Tutorial. 


I love ballroom dance. If I can dance, i will use this song. Hihihi. 
Love it love it very much! XD













sway sway sway yourself. ^_^






Hihihi, I like it!!


this is my shadow on snow picture. see! Hihihi


my picture at the photo frame in a room. 


I like this one! I'm in a fairytale world, Peterpan. :D


Hahaha what a cute frame! 


Me at the screen town. Hahaha. 

That's all. I ran out of photo hihihi byebye ^_^

Senin, 13 Desember 2010

They are Awesome

       

William Moseley as Peter Pevensie on Narnia.

     

Anna Katherine Popplewell as Susan Pevensie on Narnia.

    

Skandar Keynes as Edmund Pevensie on Narnia.

    

Georgia Henley as Lucy Pevensie on Narnia.

Very Awesome :')


      

   




  


I like fantasy stories that exist in this story. their thanks to this movie to be very great! I want to be like them! I love them. Awesome!

Something About Love


Love is so beautiful isn't it?



More than word to say.


Love is always to require.


Love always afraid to lose.




Lover alone without love. could only stare at the sky.

Better to have loved and lost, than to have never loved at all..





Say it now. Becouse regret not come first, it always come latter. 
But, must think about it twice.




 


Toothache definitely going to be fine, but the pain of the living person will be felt forever.

Well, that's all about...








Sabtu, 11 Desember 2010

5 most expensive chocolate

 Manis, perlambang kasih sayang, makanan paling popular, itulah coklat. Makanan yang diolah dari biji kakao ini umumnya diberikan sebagai hadiah atau bingkisan di hari raya. Dengan bentuk corak dan rasa yang unik, coklat bisa menjadi makanan yang mewah dengan cara penyajian yang berbeda-beda. Berikut beberapa coklat dengan harga yang selangit versi Tanggulangsi.




  • Godiva
Salah satu perusahaan coklat yang berasal dari salah satu negara yang dikenal sebagai penghasil produk coklat Belgia ini, memang terkebal dengan spesialis coklat berbahan baku coklat murni dan bermutu tinggi. Coklat keluaran Godiva bisa dibandrol seharga US $ 117/pon-nya atau setara dengan Rp 1 juta/pon-nya. Produsen coklat Godiva ini memperkenalkan koleksi baru coklatnya yang diberi label G. Seluruh koleksi memorabilia dari G terdiri dari berbagai bahan dan rasa seperti Pallet G Our, Madutes Mania, dan Mexico Hot Coklat. Rasa-rasa coklat keluaran Godiva ini tergantung pada jenis permintaan konsumennya.
         
  • Richart
Coklat keluaran Richart ini sedikit lebih mahal lagi dari keluaran Godiva yaitu di bandrol seharga US $120 atau setara dengan 1,7 juta rupiah. Kelebihan coklat Richart ini karena bahan bakunya hamper 70% asli dari cacao Kriolof, Venezuela, dan diakui sebagai Negara penghasil coklat dengan kulitas terbaik di dunia. Coklat Richart teman special yang disajikan produknya dengan rasa buah-buahan tropis termasuk di dalamnya coklat dengan almond, rashberry, strawberry dan buah-buahan eksotis lainnya.



  • Deflafee
Sebuah perusahaan di Swiss Deflafee International telah mengembangkan cindera mata mengandung emas yang sangat mewah sejak tahun 2004. Deflafee memproduksi coklat dan lollipop yang mengandung emas 24 karat dan dibungkus dengan lapisan dari emas yang bisa dimakan. Per gram coklat Deflafee ini diberi harga US $504/450gram atau setara dengan Rp 5 juta untuk harga coklat kurang dari 1 ons. Untuk wanita yang penggemar emas, mungkin tergoda untuk mencicipi Deflafee ini. Komposisi coklat berbentuk buah coklat ini asli buatan tangan dan terbuat dari gula, minyak kelapa, coco butter, susu bubuk dan vanilli, serta tak lupa serpihan emas halus yang diyakini berguna bagi kesehatan kulit yaitu awet muda.  

 

  • Noka
Coklat buatan Noka ini dikenal sebagai salah satu colat paling lembut dan nikmat di dunia. Coklat Noka adalah kompilasi terbaik dari coklat khusus hitam dari perkebunan di Venezuella, Pantai Gading, Trinigdad dan Ekuador. Coklat ini berharga Rp 8,6 juta per setengah kilo. Noka coklat adalah coklat dengan harga tertinggi kedua di dunia. Noka coklat dibuat dari 75% cacao murni dengan campuran lain seperti mentega, cacao, dan gula. Keunikan dari produksi coklat ini adalah tidak menambahkan semua jenis emulsifier atau rasa vanilli dalam produk coklat mereka.

  • Chocopolagie
Chocopolagie buatan Fredskrims Child ini dijamin akan memberikan pengalaman khusus kepada lidah anda. Toko coklat yang didirikan oleh Fredskrims Child pada tahun 1999 ini menjual coklat travel termahal di dunia dengan harga sekitar Rp 50 juta per kilo atau Rp 2,7 juta per buah. Coklat buatan Fredskrims Child ini hanya dijual berdasarkan pesanan. Ravo ini tersusun dari 70% cacao Falvon Nanggana C yang dicampur dengan minyak travel buatan tangan. Sebagai sentuhan akhir, travel ditaburi dengan cocoa powder. Anda dapat mengunjungi pembuaan coklat ini di Main Street Norah di Amerika.

Itulah beberapa olahan coklat sebagai makanan mewah versi Tanggulangsi. Sluuurrpp, yummy! :))





                          








After Exam.


Hello, Hi, Hey-hoo, Guys.
This weekend is my last day of exam. It's time to hangout with my friends. :))
Well, we decided to go to the cinema. currently, there is a new movie that we've been waiting since 2 months ago. That's Narnia and The Dawn Trader. Very funny, when we lack money and my one friend didn't get a ticket. So, I don't know what happened, he could go and not get caught officers. Hahahaha. It mean, he entered without ticket and not pay. Hahaha

After the film was finished, we went to eat at the food court so sparingly. We joked and laughed until eventually lost track of time. okay, time to go home. a cool Saturday night, after the exam.


you know my feelings right now? very happy! even to eliminate a moment of sadness because of "HIM" :')